Menghitung Kebutuhan Energi: Kuliah Perdana Mahasiswa Sarjana Terapan Kepelatihan Olahraga UNESA Bahas Rumus BMR dan BMI

Pada hari Jumat (13/09), mahasiswa baru program Sarjana Terapan Kepelatihan Olahraga memulai perkuliahan perdana mereka dengan mata kuliah Ilmu Gizi. Dalam pertemuan ini, dosen pengampu, Dr. Ratna Candra Dewi, S.KM., M.Kes., menyampaikan materi penting terkait energi dalam tubuh manusia serta bagaimana mengukur kebutuhan kalori individu melalui rumus Basal Metabolic Rate (BMR) dan Body Mass Index (BMI) atau yang dikenal dengan Indeks Massa Tubuh (IMT).
Dr. Ratna menjelaskan bahwa energi adalah komponen utama yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsinya. Energi ini berasal dari makanan yang kita konsumsi, terutama dari makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Namun, kebutuhan energi setiap individu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, dan tingkat aktivitas fisik.
Untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami konsep ini, Dr. Ratna memperkenalkan dua rumus penting yang sering digunakan dalam ilmu gizi dan olahraga: BMR dan BMI. BMR adalah jumlah energi yang dibutuhkan tubuh saat istirahat total untuk mempertahankan fungsi vital, seperti pernapasan dan sirkulasi darah. Berikut adalah Rumus menurut formula Harris-Benedict:
- BMR Pria = 66,5 + (13,7 × berat badan) + (5 × tinggi badan) – (6,8 × usia)
- BMR Wanita = 655 + (9,6 × berat badan) + (1,8 × tinggi badan) – (4,7 × usia)
Mahasiswa diajak menghitung BMR mereka menggunakan rumus ini, dan kemudian membandingkannya dengan kebutuhan kalori harian berdasarkan tingkat aktivitas fisik masing-masing.
Setelah memahami BMR, mahasiswa kemudian diperkenalkan dengan BMI atau IMT, yang digunakan untuk mengukur proporsi berat badan terhadap tinggi badan. BMI dapat membantu menentukan apakah seseorang memiliki berat badan yang ideal, kekurangan berat badan, atau mengalami obesitas. Rumus BMI/IMT adalah sebagai berikut:
Indeks massa tubuh (IMT) = berat badan (kg) : tinggi badan (m)²
Dr. Ratna memberikan contoh perhitungan BMI untuk membantu mahasiswa memahami penerapannya. “Jika seseorang memiliki berat badan 70 kg dan tinggi badan 1,75 m, maka BMI-nya adalah 22,86. Dengan angka BMI 22,86, orang tersebut berada dalam kategori berat badan normal,” jelasnya.
Mahasiswa diberikan contoh kasus dan diminta melakukan penghitungan BMR dan BMI mereka sendiri. Sesi praktik ini menjadi salah satu momen menarik, di mana mahasiswa bisa langsung menerapkan teori ke dalam perhitungan nyata. Beberapa mahasiswa tampak antusias menghitung dan membandingkan hasilnya dengan rekan-rekan mereka.
Ilham, salah satu mahasiswa, mengatakan bahwa materi ini sangat relevan dengan studi kepelatihan olahraga. “Sebagai calon pelatih, kami harus memahami kebutuhan gizi para atlet agar mereka bisa mencapai performa maksimal. Dengan memahami konsep BMR dan BMI, kami bisa membantu mereka mengatur asupan energi yang tepat,” tuturnya.
Melalui kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami pentingnya pengelolaan energi dan komposisi tubuh dalam mendukung performa atletik, sehingga mampu merancang program gizi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Kuliah perdana ini menjadi langkah awal yang penting dalam membekali mahasiswa Sarjana Terapan Kepelatihan Olahraga dengan ilmu gizi yang fundamental, terutama terkait pengelolaan energi yang sangat penting dalam dunia olahraga.
Penulis : Riski Septa Jatmikanto
Foto : Nafisa Arif Pambudi